Senin, 20 Juni 2016

Hei tawanan dibalik rindu




Apa kabarmu
Masih merantau ataukah tertikam oleh rindu?
Hahaha yang jelas akan semakin nikmat jika bersantapkan keikhlasan dan berpadu candu rindu J
Asingkah kau wahai cinta..
Aku harap kau rela menuai meski sulit air mengalir,
Terpati udara dingin secerca kelabu
Anganku bermuara seperti rajutan ombak yang kian memaknai samudra
Adakah kesempatan untuk jatuh cinta lagi dan lagi?..
Sementara peraduan tak lagi meminta untuk asing dan meninggalkan senja.
Arus dan pikuk telaga sepertinya habis oleh cuaca.
Aaaah! ini memang benar, seraya buta dibuat oleh senja yang masuk diperaduan.
Yah! gelap kan rasanya ?
Seperti itu jika aku merindu tatkala ujungnya kau.
Keyakinan yang kau tikam dengan hantaman yang luar biasa dahsyat. Tapi tetap aku tak bisa hindari.
Biarlah menjadi keyakinanku untukmu yang menyemai bayangan semanis  arbanat gula-gula itu.
Semakin meminta semakin payah hatiku
Semakin menjauhimu aku semakin terluka beku.
Semakin aku diam semakin aku bisu tak terucapkan rindu.
Inikah jalan takdirku. Yah aku paham sekali dengan kegelapan senja ini.
Haruskah aku diam atau kah aku teriakkan rindu ini ?
Penantian yang beku dan belum usai .



Tidak ada komentar:

Posting Komentar